Scroll untuk baca artikel
Example 240x600
Example floating
Example floating
Example 728x250
Ekonomi & Bisnis

Bank Indonesia Pangkas BI Rate Jadi 5,25% untuk Dukung Kredit dan Pertumbuhan Ekonomi

REDAKSI
461
×

Bank Indonesia Pangkas BI Rate Jadi 5,25% untuk Dukung Kredit dan Pertumbuhan Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi. FOTO IST

HESTEK.CO.ID – Bank Indonesia (BI) resmi menurunkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate menjadi 5,25 persen pada Rapat Dewan Gubernur bulan Juli 2025. Penurunan ini dilakukan untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal dan moderasi permintaan global.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil berdasarkan pertimbangan stabilitas makroekonomi dan prospek inflasi yang tetap terkendali.

“Inflasi diperkirakan tetap berada dalam kisaran target 2,5±1 persen pada 2025. Ruang pelonggaran moneter digunakan untuk memperkuat transmisi kebijakan dan mendorong pembiayaan sektor riil,” ujar Perry dalam konferensi pers, Rabu (16/7/2025).

Baca Juga:  Potensi Peningkatan Ekonomi Masyarakat Gorontalo melalui Penelitian Produk Emping Jagung

Tak hanya suku bunga acuan, BI juga menurunkan suku bunga deposit facility menjadi 4,50 persen dan suku bunga lending facility menjadi 6,00 persen. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat penyaluran kredit perbankan, terutama ke sektor produktif dan UMKM.

Langkah tersebut mendapat sambutan positif dari pelaku pasar. Sejumlah bank telah menyatakan kesiapan untuk menyesuaikan suku bunga pinjaman secara bertahap, guna memperkuat daya beli dan konsumsi masyarakat.

Baca Juga:  Nilai Tukar Rupiah Menguat Jadi Rp 8.170 Per Dolar AS, Apa Yang Terjadi?

Meski begitu, BI tetap menjaga kewaspadaan terhadap volatilitas eksternal, terutama terkait arah kebijakan suku bunga The Fed dan pergerakan nilai tukar global. Untuk itu, intervensi di pasar valas dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) tetap dilanjutkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Baca Juga:  Harga BBM per 1 Juli 2023 Kembali Naik, Cek Disini Harganya

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Nailul Huda, menilai langkah BI ini strategis, namun perlu diimbangi dengan kebijakan fiskal yang agresif.

“Stimulus moneter harus bersinergi dengan percepatan belanja pemerintah agar dampaknya maksimal ke pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Dengan langkah pelonggaran ini, BI berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat tetap berada dalam kisaran 5,0–5,3 persen pada tahun 2025, meskipun tekanan global terus membayangi.