HESTEK.CO.ID – Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru setelah kematian ayahnya, Ali Khamenei. Mojtaba merupakan putra kedua Ali Khamenei yang selama ini dikenal memiliki pengaruh kuat di lingkaran elite kekuasaan Iran.
Dilansir Al Jazeera, Senin (9/3/2026), penunjukan tersebut dilakukan setelah Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel pada hari pertama konflik terbaru di kawasan tersebut.
Proses pemilihan dilakukan melalui Majelis Pakar Iran, lembaga yang memiliki kewenangan menentukan pemimpin tertinggi negara itu. Setelah melalui proses internal, Mojtaba yang sejak lama disebut-sebut sebagai kandidat kuat akhirnya dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru.
Meski belum pernah mencalonkan diri dalam jabatan publik atau mengikuti pemilihan umum, Mojtaba Khamenei diketahui memiliki pengaruh besar dalam struktur kekuasaan Iran selama beberapa dekade terakhir.
Ia juga disebut memiliki hubungan dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), salah satu kekuatan militer paling berpengaruh di negara tersebut.
Kini berusia 56 tahun, Mojtaba selama ini tidak pernah secara terbuka membahas isu suksesi kepemimpinan. Isu tersebut dinilai sangat sensitif, mengingat kemungkinan naiknya Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi dapat memunculkan persepsi terbentuknya dinasti politik yang mengingatkan pada era Pahlavi dynasty sebelum terjadinya Iranian Revolution.
Israel Ancam Targetkan Pemimpin Baru Iran
Di sisi lain, Israel menyatakan terus memantau perkembangan politik di Iran, termasuk sosok yang akan menggantikan Ali Khamenei.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa militer negaranya tidak akan ragu menargetkan siapa pun yang memimpin Iran dan dianggap melanjutkan kebijakan yang dinilai mengancam Israel.
“Setiap pemimpin yang ditunjuk oleh rezim Iran untuk terus memimpin rencana menghancurkan Israel, mengancam AS dan dunia bebas serta menindas rakyat Iran, akan menjadi target yang jelas untuk dieliminasi,” ujar Katz dalam pernyataannya, seperti dikutip Al Jazeera.
Ia menegaskan bahwa ancaman tersebut berlaku bagi siapa pun yang menggantikan kepemimpinan Iran.
“Tidak peduli siapa namanya atau di mana dia bersembunyi,” tegasnya.












