HESTEK.CO.ID – Iran menunjuk ulama senior, Ayatollah Alireza Arafi, untuk memimpin Dewan Kepemimpinan Sementara pasca wafatnya Ali Khamenei. Dewan ini akan mengambil alih tugas Pemimpin Tertinggi hingga proses suksesi resmi rampung.
Laporan kantor berita mahasiswa Iran ISNA yang dikutip CBS menyebut, Arafi akan memimpin bersama Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei. Ketiganya membentuk Dewan Kepemimpinan Sementara yang bertugas memastikan stabilitas pemerintahan selama masa transisi.
Juru bicara Dewan Penilaian Kepentingan Nasional, Mohsen Dehnavi, menyatakan Arafi dipilih sebagai anggota dewan sementara tersebut. Dewan ini akan memimpin negara hingga Majelis Ahli menetapkan pemimpin tertinggi definitif.
Pengangkatan Arafi menandai transisi kepemimpinan tertinggi kedua sejak Revolusi Islam Iran 1979, sebuah momentum penting yang menguji soliditas politik dan keagamaan Republik Islam Iran.
Latar Belakang dan Pendidikan
Arafi lahir pada 1959 di Meybod, Provinsi Yazd. Ia berasal dari keluarga ulama dan menempuh pendidikan agama di Qom, pusat studi Syiah terkemuka di Iran. Di sana, ia meraih gelar mujtahid—otoritas yang memberinya hak mengeluarkan fatwa secara independen.
Kariernya berkembang di bawah kepemimpinan Khamenei. Ia dipercaya mengemban sejumlah posisi strategis, termasuk memimpin salat Jumat di Meybod dan Qom.
Arafi juga pernah menjabat sebagai ketua Universitas Internasional Al-Mustafa, lembaga pendidikan yang melatih ulama dari dalam dan luar Iran. Pada 2019, ia diangkat menjadi anggota Dewan Penjaga—lembaga berpengaruh yang mengawasi legislasi dan proses pemilu.
Peran dalam Suksesi Kepemimpinan
Berdasarkan konstitusi Iran, Pemimpin Tertinggi harus merupakan ulama Syiah senior yang dipilih oleh Majelis Pakar. Dewan Kepemimpinan Sementara dibentuk untuk menjalankan fungsi-fungsi strategis negara hingga pemimpin tetap dipilih.
Posisi Arafi di Dewan Penjaga serta kedekatannya dengan struktur ulama menjadikannya figur sentral dalam proses suksesi. Ia dinilai memiliki pengaruh dalam menentukan arah kepemimpinan selanjutnya, di tengah persaingan antara kelompok garis keras dan pragmatis.
Tantangan di Tengah Dinamika Internal dan Eksternal
Dalam sejumlah pernyataannya, Arafi menekankan pentingnya peran seminari dan ulama dalam politik serta solidaritas terhadap kelompok tertindas.
“Seminari harus berasal dari rakyat, bersolidaritas dengan kaum tertindas, bersifat politis, revolusioner, dan berwawasan internasional,” ujarnya.
Meski memiliki legitimasi kuat di kalangan elite agama, Arafi disebut relatif tidak memiliki basis politik independen yang luas. Kondisi ini berpotensi menjadi tantangan tersendiri, terutama di tengah tekanan eksternal dan dinamika internal yang kompleks.
Dengan latar belakang keagamaan yang kuat dan pengalaman birokrasi panjang, kepemimpinan sementara Arafi akan menjadi fase krusial dalam menentukan arah stabilitas politik Iran ke depan.












