HESTEK.CO.ID – Mahasiswa Kuliah Kerja Dakwah (KKD) Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO) Angkatan ke-30 mendorong peningkatan ekonomi masyarakat Desa Modelidu, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, melalui pemanfaatan jagung dan tongkol jagung menjadi produk bernilai jual.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan pemberdayaan masyarakat dengan tema “Dari Sampah Menjadi Manfaat, Dari Jagung Menjadi Produk Bernilai” yang berlangsung di Aula Kantor Desa Modelidu, Senin (10/8/2026).
Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa KKD UMGO mengajarkan masyarakat mengolah jagung menjadi emping jagung, sementara tongkol jagung dimanfaatkan menjadi briket.
Kegiatan ini diharapkan dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat dengan memanfaatkan potensi lokal yang tersedia di Desa Modelidu.
Koordinator Desa KKD UMGO ke-30, Andi Putra Leo, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bentuk kontribusi mahasiswa dalam memberikan keterampilan yang dapat dikembangkan masyarakat secara mandiri.
“Harapan kami, masyarakat bisa melihat bahwa apa yang selama ini dianggap limbah masih bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai jual. Kami ingin memberikan keterampilan yang bisa dilanjutkan masyarakat setelah program KKD selesai,” ujar Andi.
Ia berharap pengolahan jagung menjadi emping maupun tongkol jagung menjadi briket tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan, tetapi dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat.

Sementara itu, Camat Telaga Biru, Rusdiyanto Sjahrain, mengapresiasi kegiatan yang dilakukan mahasiswa KKD UMGO tersebut. Menurutnya, tema yang diangkat memiliki nilai manfaat karena mengajarkan masyarakat untuk melihat potensi dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
“Sudah ada sampah, ada manfaat. Mudah-mudahan dengan sentuhan tangan-tangan mahasiswa, sesuatu yang dinilai tidak berguna lagi dan dianggap sebagai sampah justru bisa berubah,” kata Rusdiyanto.
Ia mengatakan Desa Modelidu memiliki potensi jagung yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk. Selain jagung yang dapat diolah menjadi emping, tongkol jagung yang selama ini menjadi limbah juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku briket.
“Kalau bicara jagung, jagung sendiri sudah punya nilai dan manfaat. Tetapi setelah jagungnya diambil, tongkolnya kemudian dianggap sampah. Teman-teman mahasiswa memberikan solusi bagaimana bagian yang tidak bernilai ini bisa bermanfaat bagi warga dan sungguh-sungguh punya nilai jual,” ujarnya.
Rusdiyanto juga berharap proses produksi dapat dilakukan dengan biaya yang efisien sehingga produk yang dihasilkan tidak justru membutuhkan biaya besar dan masyarakat tetap memperoleh keuntungan.
Menurutnya, keberlanjutan menjadi hal penting setelah mahasiswa KKD menyelesaikan program pengabdian di desa. Karena itu, ia mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, BPD, karang taruna dan BUMDes untuk mengembangkan produk tersebut.
“Kegiatan ini bukan cuma satu-satunya program. Harus sustainable, harus berkelanjutan. Ketika mahasiswa sudah selesai, jangan sampai tidak ada kelanjutan. Program ini harus bisa dikembangkan,” tegasnya.
Ia berharap inovasi tersebut dapat menjadi salah satu pintu masuk bagi pengembangan potensi ekonomi Desa Modelidu, sekaligus mendorong masyarakat memanfaatkan sumber daya lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah.












