HESTEK.CO.ID – Pemerintah Iran membentuk badan kepemimpinan sementara yang terdiri dari tiga orang untuk menjalankan roda pemerintahan setelah gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, pada Kamis (5/3/2026) menjelaskan bahwa badan tersebut akan memimpin negara hingga pemimpin tertinggi baru resmi dipilih.
“Sebuah badan baru telah dibentuk yang terdiri dari tiga orang. Jadi mereka akan bertanggung jawab sampai pemimpin baru terpilih. Mereka sedang bekerja untuk mempersiapkan landasan bagi pemilihan pemimpin baru,” kata Takht-Ravanchi kepada wartawan.
Ia menambahkan bahwa proses transisi kepemimpinan sedang dipersiapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi di Iran.
Sebelumnya, anggota Majelis Pakar Iran, Mohsen Qomi, mengungkapkan bahwa proses pemilihan pemimpin tertinggi baru saat ini sedang berlangsung.
Majelis Pakar merupakan lembaga konstitusional yang bertugas menunjuk serta mengawasi pemimpin tertinggi Iran.
Sementara itu, anggota presidium badan negara, Mahmoud Rajabi, pada 4 Maret menyatakan bahwa hasil akhir pemilihan tersebut nantinya akan diumumkan secara resmi oleh sekretariat Majelis Pakar.
Di tengah situasi politik internal Iran, ketegangan geopolitik dengan Amerika Serikat juga dilaporkan meningkat.
Media Amerika Serikat, Politico, melaporkan bahwa pemerintahan Donald Trump tengah mempertimbangkan kemungkinan operasi militer terhadap Iran yang dapat berlangsung hingga 100 hari atau sampai September mendatang.
Bahkan, Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, pada Rabu (4/3/2026) disebut kembali merevisi jadwal rencana operasi militer tersebut menjadi delapan pekan dari sebelumnya empat hingga lima pekan.
Dalam laporan yang sama disebutkan bahwa United States Central Command telah meminta tambahan perwira intelijen militer untuk ditempatkan di markas besarnya di Tampa, Florida, guna mendukung operasi yang berkaitan dengan Iran.
Hingga kini, situasi politik di Iran masih terus berkembang seiring proses pemilihan pemimpin tertinggi baru serta meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.













