HESTEK.CO.ID — Rencana aksi demonstrasi yang disebut akan berlangsung pada 1 hingga 7 Mei 2026 kembali menjadi perhatian publik di Gorontalo.
Sejumlah kalangan menilai gerakan itu perlu dicermati, mengingat adanya peran Yosar Ruiba, serta dikaitkan dengan isu pertambangan tanpa izin (PETI).
Aktivis Gorontalo, Andi Taufik, menilai peran Yosar Ruiba dalam aksi demostrasi tersebut berpotensi sarat kepentingan dan dapat memunculkan narasi propaganda di tengah masyarakat.
Andi menuturkan, Yosar Ruiba selama ini kerap dikaitkan dengan isu aktivitas pertambangan tanpa izin (PETI). Karena itu, ia menilai keterlibatan Yosar sebagai jenderal lapangan dalam aksi mendatang patut menjadi perhatian.
“Bisa saja aksi ini hanya menjadi batu loncatan untuk memperkuat posisi kelompok tertentu, terutama jika dikaitkan dengan isu pertambangan tanpa izin yang selama ini mencuat,” kata Andi, Jumat 24 April 2026
Lebih jauh, Andi mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi, dengan menyinggung peristiwa kerusuhan di Pohuwato yang berujung pada pembakaran kantor bupati beberapa waktu lalu.
Ia menilai kejadian tersebut telah menimbulkan dampak besar, mulai dari kerugian daerah hingga adanya warga yang harus berhadapan dengan proses hukum.
“Kita belum melupakan sejarah kelam di Pohuwato. Pembakaran kantor bupati adalah kerugian tersendiri bagi masyarakat dan daerah. Banyak masyarakat ditangkap dan menjadi korban karena kepentingan segelintir orang,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perjuangan atas nama rakyat tidak boleh berujung pada keuntungan pihak tertentu, sementara masyarakat justru menanggung risiko sosial maupun hukum.
Andi juga mendorong aparat penegak hukum untuk memperkuat pengawasan dan melakukan langkah tegas apabila ditemukan indikasi pelanggaran hukum dalam rangkaian aktivitas tersebut.
“APH harus bertindak sebagai langkah nyata penegakan hukum. Jangan biarkan masyarakat Pohuwato kembali menjadi korban atas kepentingan segelintir orang,” tutup Andi.












