HESTEK.CO.ID — Terpilihnya Provinsi Gorontalo sebagai tuan rumah Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan ke XVII dinilai menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi besar terhadap berbagai persoalan yang masih dihadapi petani dan nelayan.
Hal itu disampaikan Andi Taufik, yang menegaskan bahwa Penas tidak boleh hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial atau ajang silaturahmi semata, melainkan harus menjadi ruang pembahasan serius untuk mencari solusi konkret demi peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan.
“Penas bukan hanya kegiatan seremonial belaka. Ini bukan hanya bertujuan sebagai ajang silaturahmi petani dan nelayan se-Indonesia. Tetapi harus menjadi bahan evaluasi total terhadap permasalahan nelayan dan petani, serta mencari langkah pembaharu untuk meningkatkan kesejahteraan mereka,” kata Andi Taufik, Rabu (22/04/2026).
Menurutnya, Gorontalo sebagai tuan rumah Penas XVII seharusnya memiliki rasa tanggung jawab moral untuk membuktikan keseriusan pemerintah daerah dalam menyelesaikan persoalan yang selama ini belum tertangani.
“Gorontalo sebagai tuan rumah penas seharusnya malu ketika melihat banyaknya permasalahan petani dan nelayan yang sampai hari ini belum menemukan solusi,” tegasnya.
Andi mencontohkan di sejumlah wilayah Gorontalo masih banyak petani yang mengalami kegagalan panen akibat tercemarnya sumber air yang digunakan untuk pertanian.
Selain itu, kerusakan infrastruktur seperti tanggul yang jebol juga menjadi penyebab sawah terendam, sehingga merugikan petani secara ekonomi.
Ia juga menyoroti kesulitan petani dalam mendapatkan pupuk berkualitas yang masih menjadi persoalan di berbagai daerah.
“Masih banyak petani yang gagal panen akibat tercemarnya air. Di wilayah lain kegagalan panen terjadi karena tanggul jebol sehingga padi terendam. Ini belum ditambah dengan sulitnya petani mendapatkan akses pupuk berkualitas,” ungkapnya.
Sementara di sektor perikanan, Andi menyebut persoalan yang dihadapi nelayan di kawasan Danau Limboto juga semakin kompleks. Nelayan disebut menghadapi penurunan populasi ikan lokal, sementara ikan hama jenis sapu-sapu berkembang biak secara masif.
Selain itu, ledakan eceng gondok dan penggunaan alat tangkap seperti tingkap yang dinilai bertentangan dengan aturan, turut memperparah kondisi danau dan mengancam mata pencaharian nelayan.
“Nelayan di Danau Limboto dihadapkan dengan menurunnya populasi ikan lokal serta perkembangan ikan hama sapu-sapu dalam skala besar. Belum ditambah ledakan eceng gondok serta penggunaan alat tingkap yang bertentangan dengan undang-undang. Ini tentu menjadi masalah serius,” jelasnya.
Dengan digelarnya Penas XVII di Gorontalo, Andi berharap agenda nasional tersebut mampu menjadi pemantik lahirnya kebijakan dan program pembaharuan yang benar-benar menyentuh kebutuhan petani dan nelayan, bukan sekadar kegiatan seremonial yang menghabiskan anggaran daerah.
“Penas ini harus menjadi spirit pembaharu untuk terus meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan Gorontalo. Bukan hanya sekadar kegiatan seremonial, tapi menjadi titik evaluasi total bagi pemerintah daerah,” pungkasnya.












