HESTEK.CO.ID – Anggota DPRD Provinsi Gorontalo dari Fraksi Golkar, Ghalieb Lahidjun, menyoroti pendekatan berbeda yang digunakan Menteri Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Natalius Pigai, saat menyampaikan materi dalam kuliah umum di Auditorium Universitas Negeri Gorontalo, Rabu (1/4/2026).
Menurut Ghalieb, kunci dari kuatnya respons peserta terhadap materi yang disampaikan terletak pada cara Pigai mengemas isu HAM dengan bahasa yang ringan namun tetap substansial.
“Beliau tidak membawa HAM sebagai sesuatu yang berat atau eksklusif. Justru dibawa ke hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” kata Ghalieb.
Ia mengungkapkan, dalam forum tersebut, materi HAM tidak disampaikan dalam bentuk teori yang rumit, melainkan melalui pendekatan pengalaman dan realitas sosial yang sering ditemui masyarakat.
Hal ini, kata dia, membuat mahasiswa dan pelajar lebih mudah menangkap makna HAM, bukan hanya sebagai konsep hukum, tetapi sebagai sikap dalam kehidupan.
“Jadi bukan sekadar tahu istilah HAM, tapi bagaimana berpikir, bersikap, dan bertindak dengan perspektif HAM,” jelasnya.
Ghalieb juga menilai, arah kebijakan pemerintah yang mulai menempatkan HAM sebagai pertimbangan utama dalam penyusunan regulasi merupakan langkah strategis.
Menurutnya, jika pendekatan tersebut konsisten diterapkan, maka kebijakan yang dihasilkan tidak hanya bersifat administratif, tetapi mampu menjawab rasa keadilan di masyarakat.
Ia menambahkan, kegiatan seperti ini penting untuk mengubah pola pikir publik yang selama ini cenderung memahami HAM hanya saat terjadi pelanggaran.
“Sekarang mulai bergeser, orang sudah bicara HAM dalam keseharian. Ini yang harus terus diperkuat,” ujarnya.
Ghalieb berharap, sinergi antara pemerintah, legislatif, dan dunia pendidikan dalam membangun kesadaran HAM dapat terus ditingkatkan, sehingga pemahaman masyarakat tidak berhenti pada teori, tetapi berlanjut pada praktik nyata dalam kehidupan sosial.









