Example floating
Example floating
Tajuk Rencana

NasDem Gorontalo Setelah Gobel: Antara Nakhoda Baru dan Nama yang Sempat Muncul

REDAKSI
2
×

NasDem Gorontalo Setelah Gobel: Antara Nakhoda Baru dan Nama yang Sempat Muncul

Sebarkan artikel ini
Almarhum Rachmad Gobel. FOTO AI

PARTAI Nasional Demokrat (NasDem) Provinsi Gorontalo akhirnya memiliki nahkoda baru. DPP telah menetapkan Indrawati Gobel sebagai Ketua DPW NasDem Gorontalo, menggantikan almarhum Rachmat Gobel yang sebelumnya dipercaya memimpin partai tersebut.

Penetapan Indrawati Gobel menjadi bagian dari langkah baru untuk menjaga keberlangsungan roda organisasi NasDem Gorontalo setelah wafatnya Rachmat Gobel. Keputusan tersebut sekaligus menempatkan Indrawati pada posisi strategis untuk melanjutkan konsolidasi partai di tingkat provinsi.

Pergantian kepemimpinan itu tentu bukan perkara sederhana. Ketua DPW bukan hanya simbol organisasi, melainkan figur yang akan menentukan arah konsolidasi, membangun komunikasi dengan struktur partai di kabupaten dan kota, serta menghadapi berbagai agenda politik NasDem di Gorontalo.

Karena itu, proses menuju penetapan Ketua DPW NasDem Gorontalo menarik untuk dicermati. Sebelum nama Indrawati Gobel akhirnya ditetapkan, sempat beredar dinamika mengenai figur lain yang disebut-sebut mendapat dorongan untuk memimpin NasDem Gorontalo.

Nama tersebut adalah Sofyan Puhi.

Sofyan Puhi. FOTO ISTIMEWA

Sofyan Puhi bukan figur yang berada di pinggir panggung politik Gorontalo. Ia merupakan Bupati Gorontalo sekaligus kader Partai NasDem. Dengan posisi tersebut, jika benar ada dorongan agar Sofyan Puhi menjadi Ketua DPW NasDem Gorontalo, maka dorongan itu tentu memiliki bobot politik yang tidak kecil.

Baca Juga:  Dibalik Penggeledahan PUPR, Tabir Korupsi Sistemik Pemerintahan Nelson Pomalingo Mulai Diungkap?

Seorang bupati didorong memimpin partai di tingkat provinsi bukan sekadar pergantian jabatan organisasi. Di baliknya terdapat pertanyaan mengenai arah konsolidasi NasDem, kekuatan politik daerah, serta bagaimana partai melihat figur yang dianggap mampu membawa organisasi menghadapi agenda politik ke depan.

Namun, isu yang berkembang menyebutkan bahwa dorongan terhadap Sofyan Puhi tersebut tidak sepenuhnya mendapatkan sambutan dari internal DPW NasDem Gorontalo. Disebut ada jajaran pengurus yang justru menolak atau tidak menghendaki Sofyan Puhi menempati posisi Ketua DPW.

Di sinilah isu tersebut menjadi menarik.

Jika memang benar nama Sofyan Puhi pernah didorong untuk menjadi Ketua DPW NasDem Gorontalo, lalu kemudian mendapatkan penolakan dari sebagian pengurus, tentu ada alasan yang patut diketahui. Apa yang menjadi dasar penolakan itu?

Apakah karena persoalan mekanisme organisasi? Apakah menyangkut konfigurasi kepengurusan? Atau ada pertimbangan politik lain yang membuat sebagian kader dan pengurus NasDem Gorontalo tidak menghendaki Sofyan Puhi berada di pucuk pimpinan partai?

Baca Juga:  Ketika Isu Politik Datang Sebelum Waktunya

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sampai sekarang menjadi bagian dari dinamika politik yang berkembang di tengah-tengah publik.

Namun perlu ditegaskan, informasi mengenai adanya dorongan terhadap Sofyan Puhi maupun penolakan dari jajaran pengurus tersebut masih merupakan isu yang membutuhkan konfirmasi. Tidak tepat jika kabar internal partai langsung diposisikan sebagai fakta tanpa mendengar penjelasan dari pihak-pihak yang terlibat.

Justru karena itu, penetapan Indrawati Gobel sebagai Ketua DPW NasDem Gorontalo menjadi penting untuk dilihat dalam konteks yang lebih luas. Apakah keputusan tersebut sepenuhnya merupakan keputusan DPP, atau sebelumnya memang terdapat dinamika dan alternatif figur yang berkembang di internal partai?

Publik tentu tidak perlu masuk terlalu jauh ke dalam urusan rumah tangga partai. Tetapi ketika dinamika tersebut menyangkut partai politik dan figur kepala daerah, setiap proses politiknya memiliki dampak terhadap peta kekuasaan daerah.

Baca Juga:  Skandal Perselingkuhan di Balik Gedung Dewan, Citra Lembaga Dipertaruhkan

Sofyan Puhi sebagai Bupati Gorontalo memiliki posisi politik tersendiri. Sementara Indrawati Gobel kini memegang mandat untuk memimpin NasDem Gorontalo. Keduanya merupakan bagian dari konfigurasi politik yang tentu akan menarik untuk diamati ke depan.

Yang lebih penting, pergantian kepemimpinan NasDem Gorontalo jangan sampai hanya menghasilkan pergantian figur tanpa menyelesaikan dinamika internal. Konsolidasi seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat organisasi, bukan memperlebar jarak antarkader.

Jika memang pernah ada dorongan agar Sofyan Puhi menjadi Ketua DPW NasDem Gorontalo, maka perlu diketahui apakah dorongan tersebut benar-benar pernah terjadi dan bagaimana proses politiknya. Begitu pula dengan kabar mengenai adanya penolakan dari jajaran pengurus.

Pada akhirnya, isu ini bukan untuk membuka ruang konflik internal, melainkan untuk membuka pandangan publik mengenai dinamika di balik pergantian Ketua DPW NasDem Gorontalo, dan benar atau tidaknya kabar bahwa Sofyan Puhi sempat didorong untuk memimpin NasDem Gorontalo namun mendapat penolakan dari sebagian jajaran pengurus. ***