HESTEK.CO.ID – Aksi demonstrasi yang dilakukan para sopir truk bersama kelompok mahasiswa terkait kelangkaan BBM jenis solar subsidi di Gorontalo, Senin (25/05/2026), masih menjadi sorotan publik.
Dalam aksi tersebut, massa bahkan menduga adanya praktik mafia BBM yang menyebabkan sulitnya masyarakat mendapatkan solar subsidi di sejumlah SPBU.
Aksi yang digelar di kawasan Simpang Lima Kota Gorontalo itu sempat melumpuhkan arus lalu lintas. Puluhan truk diparkir menutup sebagian ruas jalan utama sebagai bentuk protes terhadap kondisi yang dinilai semakin merugikan para sopir dan pelaku transportasi.
Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Energi Gorontalo menyampaikan kekecewaan mereka terhadap kelangkaan solar yang dinilai berdampak besar terhadap roda perekonomian daerah.
Jenderal Lapangan aksi, Erlin Adam, mengatakan para sopir truk kini kesulitan menjalankan aktivitas akibat sulit memperoleh solar subsidi.
“Kasihan para sopir truk yang terpaksa menganggur karena kendaraan mereka tidak bisa beroperasi akibat sulit mendapatkan solar. Kalau mobil tidak jalan, mereka tidak punya pemasukan untuk keluarga,” ujar Erlin saat menyampaikan orasi.
Massa aksi juga menyoroti lambannya respons pemerintah daerah dalam menangani persoalan distribusi solar subsidi di Gorontalo.
Dalam tuntutannya, mereka mendesak pembentukan Satuan Tugas (Satgas) pengawasan BBM di setiap SPBU di Provinsi Gorontalo guna mencegah dugaan penyalahgunaan distribusi solar subsidi.
“Kami meminta pemerintah daerah segera membentuk Satgas di setiap SPBU dengan melibatkan aparat penegak hukum, Ditreskrimsus Polda Gorontalo, Dinas Perhubungan dan Pertamina,” tegas Erlin.
Ia mengungkapkan, para sopir sebelumnya telah beberapa kali melakukan pertemuan dengan pihak terkait dan dijanjikan pembentukan Satgas pengawasan BBM. Namun hingga aksi berlangsung, realisasi pembentukan Satgas tersebut belum juga dilakukan.
“Sudah beberapa kali dijanjikan Satgas akan dibentuk, tetapi sampai sekarang belum ada realisasinya. Karena itu kami turun aksi,” tambahnya.
Massa juga mengaku kecewa karena merasa belum mendapatkan kepastian jawaban dari pemerintah daerah terkait tuntutan yang mereka sampaikan.
Dalam aksi tersebut, massa turut membawa dokumen Pakta Integritas pembentukan Satgas BBM sebagai bentuk komitmen pengawasan distribusi solar subsidi dan upaya mencegah praktik mafia solar di Gorontalo.
Selain mendesak pemerintah daerah, massa aksi juga meminta aparat penegak hukum, khususnya Polda Gorontalo, agar serius menindak dugaan praktik mafia BBM yang disebut menjadi penyebab kelangkaan solar subsidi di daerah tersebut.
Aksi yang awalnya berlangsung damai sempat memanas ketika terjadi upaya pembubaran massa di tengah aksi blokade jalan. Sejumlah pengguna jalan mengaku terganggu dengan penutupan akses jalan yang dilakukan demonstran.
Di lokasi aksi, massa juga membakar ban bekas sebagai bentuk protes, sehingga kepulan asap hitam sempat membumbung di kawasan Simpang Lima Gorontalo.







