HESTEK.CO.ID — Pemerintah Kabupaten Gorontalo melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) langsung melakukan intervensi cepat menyusul beredarnya video dugaan perundungan yang melibatkan pelajar tingkat SMP.
Kepala Dikbud Kabupaten Gorontalo, Abd. Waris, menegaskan bahwa peristiwa tersebut berlangsung di luar jam belajar dan tidak berada dalam lingkungan sekolah. Namun, pihaknya tetap turun tangan untuk memastikan penanganan berjalan kondusif.
“Begitu kasus ini viral, kami tidak menunggu lama. Semua pihak terkait langsung dikumpulkan untuk menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan,” ujar Waris, Kamis (16/4/2026).
Langkah awal yang diambil berupa mediasi yang melibatkan pemerintah kecamatan, aparat desa, pihak sekolah, hingga orang tua kedua belah pihak. Dalam pertemuan tersebut, pelaku mengakui kesalahan dan menyampaikan permintaan maaf kepada korban.
Meski kasus diselesaikan secara damai, Dikbud menilai peristiwa ini menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Pengawasan terhadap aktivitas pelajar di luar sekolah dinilai masih menjadi celah yang perlu diperkuat.
Waris menyebut, upaya pencegahan sebenarnya telah lama dijalankan melalui kolaborasi dengan aparat kepolisian, kejaksaan, serta instansi perlindungan perempuan dan anak. Selain itu, sekolah juga telah diminta memperketat aturan terkait penggunaan gawai dan perilaku siswa.
Namun, ia menekankan bahwa pendekatan formal saja tidak cukup. Lingkungan keluarga dinilai memiliki peran kunci dalam membentuk karakter anak.
“Kalau hanya mengandalkan sekolah, itu tidak akan maksimal. Orang tua harus hadir dalam pengawasan sehari-hari,” tegasnya.
Sebagai langkah lanjutan, Dikbud akan memperluas program pembinaan karakter melalui kegiatan non-akademik. Aktivitas seperti kepramukaan dan Palang Merah Remaja (PMR) dinilai efektif dalam membangun empati dan kedisiplinan siswa.
Selain itu, penguatan peran komite sekolah dan Dewan Pendidikan juga akan didorong untuk memperketat kontrol sosial terhadap peserta didik.
Dikbud juga menyoroti dampak perubahan pola belajar selama pandemi COVID-19 yang membuat anak lebih intens berinteraksi melalui gawai. Kondisi ini dinilai ikut memengaruhi perilaku sosial siswa di lapangan.
Di tengah keterbatasan anggaran, pemerintah daerah memastikan program pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan tetap menjadi prioritas utama.
“Ini jadi evaluasi bersama. Kami tidak ingin kejadian seperti ini terulang,” pungkas Waris.












