HESTEK.CO.ID – Pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo menjadi salah satu peristiwa terbesar yang pernah diselenggarakan daerah ini dalam sektor pertanian dan perikanan.
Ribuan peserta dari berbagai provinsi hadir di Gorontalo. Hotel dipenuhi tamu, rumah-rumah warga dimanfaatkan sebagai tempat menginap peserta, pelaku UMKM memperoleh tambahan pendapatan, sementara sektor transportasi, perdagangan dan jasa turut merasakan dampak ekonomi dari perhelatan nasional tersebut.
Kesuksesan yang terlihat hari ini tentu merupakan hasil kerja banyak pihak yang terlibat pada masa pelaksanaan kegiatan berlangsung.
Pemerintah Provinsi Gorontalo, Pemerintah Kabupaten Gorontalo, pemerintah kabupaten dan kota lainnya, panitia daerah, KTNA, pemerintah pusat, serta seluruh masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menyukseskan agenda nasional tersebut.
Namun demikian, setiap peristiwa besar memiliki sejarah panjang yang layak dicatat secara utuh.
PENAS XVII bukanlah kegiatan yang dipersiapkan dalam hitungan bulan. Agenda sebesar ini membutuhkan proses panjang mulai dari pencalonan daerah sebagai tuan rumah, proses penilaian nasional, hingga persiapan teknis yang dilakukan secara bertahap selama beberapa tahun.
Dalam konteks itulah, nama mantan Bupati Gorontalo, Nelson Pomalingo, menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah hadirnya PENAS XVII di Gorontalo.
Pada masa kepemimpinannya, Pemerintah Kabupaten Gorontalo menyatakan kesiapan untuk menjadi tuan rumah dan mulai melakukan berbagai komunikasi serta koordinasi dengan pihak-pihak terkait guna mendukung pencalonan Gorontalo sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan nasional tersebut.
Setelah Gorontalo memperoleh kepercayaan menjadi tuan rumah PENAS XVII Tahun 2026, berbagai langkah persiapan awal mulai dilakukan.
Pemerintah Kabupaten Gorontalo bersama berbagai pihak terkait mulai menyusun rencana kerja, mempersiapkan kebutuhan pendukung, serta melakukan koordinasi lintas sektor sebagai bagian dari tahapan menuju pelaksanaan kegiatan.
Berbagai rapat persiapan juga mulai dilakukan jauh sebelum tahun pelaksanaan tiba.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa fondasi penyelenggaraan PENAS XVII memang telah dibangun sejak periode pemerintahan sebelumnya.
Pada saat yang sama, harus diakui bahwa fondasi saja tidak cukup untuk menghadirkan sebuah kegiatan berskala nasional.
Dibutuhkan kerja lanjutan, koordinasi yang lebih luas, dukungan anggaran, serta kemampuan eksekusi yang baik agar seluruh rencana dapat diwujudkan menjadi kegiatan yang sukses.
Di sinilah pemerintahan saat ini memiliki peran yang sangat penting.
Pemerintahan yang sedang berjalan menjadi pihak yang melanjutkan proses persiapan hingga tahap akhir pelaksanaan, memastikan kesiapan lokasi, pelayanan peserta, pengamanan, transportasi, hingga seluruh aspek teknis lainnya berjalan dengan baik.
Keberhasilan PENAS XVII pada akhirnya merupakan hasil dari kesinambungan pembangunan dan keberlanjutan kebijakan lintas periode kepemimpinan.
Satu pemerintahan merencanakan dan meletakkan dasar, sementara pemerintahan berikutnya melanjutkan serta menyempurnakan pelaksanaannya.
Dalam pandangan redaksi, keberhasilan pembangunan daerah memang seharusnya dipahami dalam semangat keberlanjutan semacam ini.
Tidak semua hasil pembangunan dapat dinikmati oleh pemerintahan yang memulainya, sebagaimana tidak semua keberhasilan yang dinikmati hari ini sepenuhnya dibangun dalam waktu yang singkat.
Karena itu, mencatat peran para pendahulu bukan berarti mengurangi penghargaan terhadap pemerintahan saat ini.
Sebaliknya, pengakuan terhadap kontribusi setiap periode kepemimpinan justru menunjukkan kedewasaan dalam memandang proses pembangunan daerah.
PENAS XVII menjadi contoh nyata bahwa sebuah gagasan besar membutuhkan waktu, kerja kolektif, serta kesinambungan kepemimpinan agar dapat benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Hari ini masyarakat Gorontalo menikmati dampak ekonomi, promosi daerah, dan pertukaran pengetahuan yang dihadirkan oleh PENAS XVII.
Dan dalam catatan sejarahnya, fondasi menuju perhelatan nasional tersebut telah mulai dibangun sejak era kepemimpinan Nelson Pomalingo di Kabupaten Gorontalo.
Itulah sebabnya, tidak berlebihan apabila PENAS XVII dipandang sebagai salah satu warisan perencanaan strategis dari era Nelson Pomalingo yang kemudian berbuah dan dinikmati oleh Gorontalo pada hari ini.












