Example floating
Example floating
News

Menembus Jalan Rusak, Perjuangan Siswa Piloaita Menuju Sekolah

Redaksi
4
×

Menembus Jalan Rusak, Perjuangan Siswa Piloaita Menuju Sekolah

Sebarkan artikel ini

HESTEK.CO.ID — Pagi belum sepenuhnya ramai ketika langkah kaki anak-anak mulai menyusuri jalan menuju sekolah.

Dari Dusun Piloayita, Desa Dulamayo Utara, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, perjalanan menuju sekolah bukan sekadar rutinitas. Bagi sebagian siswa, berjalan kaki menjadi pilihan untuk menghindari risiko melewati jalan yang rusak dan penuh tanjakan.

Jalan yang mereka lalui telah lama berada dalam kondisi memprihatinkan. Setidaknya ada tiga titik yang disebut menjadi bagian tersulit dalam perjalanan menuju sekolah.

Hadiyah Sauridi, guru SD yang tinggal di Dusun Piloayita, mengatakan kondisi tersebut membuat perjuangan siswa untuk mendapatkan pendidikan menjadi tidak mudah.

“Perjuangannya sangat luar biasa, apalagi dengan kondisi jalan yang seperti ini. Ada tiga titik yang harus kami lewati dengan kondisi jalan yang tidak bagus,” ujar Hadiyah.

Titik pertama merupakan lokasi yang pernah membuat kendaraan mengalami kesulitan saat melewati tanjakan. Titik berikutnya bahkan pernah terjadi kecelakaan. Sementara titik ketiga berada di sekitar akses menuju sekolah SMP yang kondisinya disebut sudah rusak parah.

Baca Juga:  75 Hari Kasus Persekusi Anak Dibawah Umur Mengendap di Polres Bitung, Keluarga Nilai Keadilan Mati Suri

Kondisi jalan itu bukan hanya menjadi cerita bagi warga. Kendaraan pelayanan kesehatan pun pernah mengalami kesulitan saat melintas.

Hadiyah mengungkapkan, kendaraan Puskesmas Telaga Biru yang memberikan pelayanan kesehatan rutin ke dusun tersebut pernah mengalami insiden di salah satu tanjakan.

“Mobil dari Puskesmas Telaga Biru ada pelayanan ke dusun kami setiap tanggal 10. Ada insiden di situ, mobilnya mundur karena memang jalannya sudah tidak bagus lagi, memang parah,” tuturnya.
Jalan Kaki Jadi Pilihan
Bagi siswa, kondisi jalan tersebut membuat perjalanan ke sekolah harus ditempuh dengan perjuangan.

Sebagian siswa memilih berjalan kaki. Sebagian lainnya masih diantar orang tua menggunakan sepeda motor. Namun, pilihan terakhir pun tidak sepenuhnya membuat perjalanan menjadi tenang.

Orang tua harus berhati-hati ketika melewati tanjakan dan jalan yang rusak. Kekhawatiran kendaraan kehilangan kendali menjadi salah satu alasan sebagian siswa lebih memilih berjalan kaki.

“Ada sebagian yang jalan kaki, ada juga yang diantar orang tuanya. Tapi orang tuanya juga was-was karena melewati jalan yang tidak bagus itu,” kata Hadiyah.

Baca Juga:  Semarak HBA ke-63, Keluarga Besar Kejati Gorontalo Gelar Jalan Sehat

Bagi anak-anak Piloayita, berjalan kaki menjadi bagian dari perjalanan mereka menuju sekolah. Pagi hari, ketika sebagian anak di tempat lain mungkin masih bersiap memulai aktivitas, mereka sudah harus menapaki jalan rusak untuk mengejar waktu belajar.

Jarak dan kondisi jalan membuat perjalanan tersebut membutuhkan waktu lebih panjang. Namun, semangat untuk sampai ke sekolah tetap ada.
Harapan di Balik Langkah Kaki
Hadiyah berharap kondisi tersebut mendapat perhatian serius dari pemerintah. Berbagai upaya penyampaian kondisi jalan telah dilakukan masyarakat, termasuk membagikan kondisi jalan melalui media sosial agar persoalan tersebut diketahui lebih luas.

Ia berharap perhatian itu berujung pada bantuan nyata, baik dari pemerintah desa, pemerintah daerah, pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat.

“Harapannya untuk pemerintah, semoga dengan adanya postingan yang selalu kami bagikan itu kami bisa mendapatkan bantuan, baik itu dari swadaya masyarakat, pemerintah daerah, pemerintah provinsi ataupun pemerintah pusat,” ujarnya.

Baca Juga:  Pemda Bone Bolango Optimistis KDKMP Jadi Motor Baru Ekonomi Pedesaan

Menurutnya, masyarakat tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin memiliki akses jalan yang lebih aman untuk menjalankan aktivitas, terutama bagi anak-anak yang setiap hari pergi ke sekolah.

“Kami ingin bisa lebih menikmati perjalanan ke tempat, terutama sekolah. Dengan kondisi jalan seperti itu kami merasa takut ketika naik kendaraan ke sekolah,” ungkap Hadiyah.

Karena itu, bagi sebagian siswa, berjalan kaki akhirnya menjadi pilihan yang dianggap lebih aman.

“Paling banyak kami memilih jalan kaki daripada naik kendaraan,” katanya.

Di balik langkah kaki anak-anak yang menyusuri jalan rusak itu, tersimpan harapan sederhana: suatu hari perjalanan menuju sekolah tidak lagi menjadi perjuangan, melainkan perjalanan biasa yang aman dan nyaman.

Warga pun berharap bantuan yang selama ini dinantikan dapat segera datang, sehingga jalan yang menjadi akses penting bagi masyarakat Piloayita bisa diperbaiki.