HESTEK.CO.ID – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) II Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menggelar penyuluhan pentingnya protein hewani bagi balita sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.
Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor Desa Iluta, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, Selasa (1/9/2026), diikuti 30 peserta ibu balita dan batita, bersama 16 mahasiswa KKN-T, dosen pembimbing lapangan.
Kegiatan itu merupakan salah satu program kerja inti KKN-T Tematik II Desa Iluta 2026 yang mengangkat tema “Pemberdayaan Masyarakat melalui Penyuluhan Pentingnya Protein Hewani bagi Balita untuk Pencegahan Stunting”.
Ketua pelaksana kegiatan, Zifran, menyampaikan penyuluhan merupakan salah satu program kerja inti mahasiswa KKN-T Tematik II Desa Iluta 2026, dengan sasaran utama ibu-ibu yang memiliki balita dan batita di desa tersebut.
“Kami berharap materi yang disampaikan hari ini tidak hanya menjadi pengetahuan, tapi juga bisa diterima dan benar-benar dipraktikkan oleh ibu-ibu di rumah masing-masing,” kata Zifran.

Zifran menambahkan, penyuluhan tersebut menjadi bagian dari rangkaian program KKN-T Tematik II Desa Iluta 2026 yang berlangsung di Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo
“Kami mengambil fokus edukasi gizi dan pemanfaatan potensi pangan lokal di tingkat desa,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Iluta, Abdullah Talib, turut menyampaikan ulasan potensi pangan lokal di desa tersebut.
Salah satunya usaha peternakan ayam petelur milik BUMDes yang selama ini menyalurkan telur ke sejumlah pedagang di Desa Iluta.
Abdullah juga meminta mahasiswa KKN-T untuk membantu mengembangkan variasi olahan telur, mengingat masyarakat setempat umumnya masih mengolahnya dengan cara digoreng atau direbus.
Ditempat yang sama pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Sri Hilmawaty, yang turut dihadirkan menjelaskan pentingnya asupan protein hewani bagi tumbuh kembang balita.
Asupan protein tersebut meliputi periode seribu hari pertama kehidupan, yang menjadi masa krusial dalam upaya pencegahan stunting.
Selain penyuluhan, kegiatan tersebut turut diisi dengan demonstrasi memasak yang dilakukan mahasiswa, berupa pengolahan ikan nila menjadi nugget.
Menu tersebut dipilih sebagai salah satu contoh variasi olahan protein hewani yang mudah diterapkan di rumah tangga sekaligus digemari anak-anak.
Protein hewani seperti telur, ikan, dan daging ayam mengandung asam amino esensial yang berperan dalam pertumbuhan sel serta perkembangan otak balita.
Kekurangan asupan protein pada masa balita menjadi salah satu faktor risiko stunting, di samping faktor sanitasi dan pola asuh.
Para ibu yang hadir tampak antusias mengikuti rangkaian penyuluhan hingga demonstrasi memasak, termasuk tanya jawab seputar pengolahan bahan pangan hewani secara praktis dan sesuai untuk anak-anak mereka.












