Example floating
Example floating
News

Akses Jalan ke Sekolah Rusak Parah, Perjuangan Siswa Dulamayo Utara Menanti Perhatian

Redaksi
47
×

Akses Jalan ke Sekolah Rusak Parah, Perjuangan Siswa Dulamayo Utara Menanti Perhatian

Sebarkan artikel ini
Siswa di dusun Piloaita jalan kaki melewati jalan rusak menuju SDN 21 Telaga Biru. FOTO:ISTIMEWA

HESTEK.CO.ID — Pagi hari, ketika sebagian anak-anak mulai bersiap menuju sekolah, siswa di Dusun Piloayita, Desa Dulamayo Utara, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, sudah dihadapkan pada perjuangan lain, menembus jalan rusak.

Bagi mereka, perjalanan menuju sekolah bukan sekadar rutinitas. Kondisi jalan yang dipenuhi tanjakan dan sejumlah titik rusak membuat sebagian siswa memilih berjalan kaki demi menghindari risiko kecelakaan.

Setidaknya terdapat tiga titik jalan yang disebut menjadi bagian paling sulit dilalui warga dan para siswa setiap hari.

Hadiyah Sauridi, seorang guru SD yang tinggal di Dusun Piloayita, mengatakan kondisi tersebut membuat perjuangan anak-anak untuk mendapatkan pendidikan tidak semudah yang dibayangkan.

“Perjuangannya sangat luar biasa, apalagi dengan kondisi jalan yang seperti ini. Ada tiga titik yang harus kami lewati dengan kondisi jalan yang tidak bagus,” ujar Hadiyah.

Salah satu titik berada di jalur tanjakan yang kerap menyulitkan kendaraan untuk melintas. Titik lainnya disebut pernah menjadi lokasi kecelakaan, sementara kondisi jalan menuju akses sekolah SMP juga dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah.

Buruknya kondisi jalan tersebut bahkan tidak hanya dirasakan oleh masyarakat dan para pelajar.

Kendaraan pelayanan kesehatan dari Puskesmas Telaga Biru pun pernah mengalami kesulitan ketika melintasi salah satu tanjakan menuju dusun tersebut.

“Mobil dari Puskesmas Telaga Biru ada pelayanan ke dusun kami setiap tanggal 10. Ada insiden di situ, mobilnya mundur karena memang jalannya sudah tidak bagus lagi. Memang parah,” tuturnya.

Jalan Kaki Jadi Pilihan

Kondisi jalan membuat perjalanan menuju sekolah menjadi tantangan tersendiri bagi para siswa.

Sebagian anak memilih berjalan kaki. Sementara sebagian lainnya masih harus diantar orang tua menggunakan sepeda motor.

Namun, perjalanan menggunakan kendaraan pun bukan tanpa risiko. Para orang tua harus ekstra hati-hati saat melewati tanjakan dan ruas jalan yang rusak.

Kekhawatiran kendaraan kehilangan kendali membuat sebagian siswa memilih berjalan kaki, meski harus menempuh perjalanan lebih jauh dan menguras tenaga.

“Ada sebagian yang jalan kaki, ada juga yang diantar orang tuanya. Tapi orang tuanya juga was-was karena melewati jalan yang tidak bagus itu,” kata Hadiyah.

Setiap pagi, anak-anak Piloayita harus menapaki jalan tersebut demi bisa sampai ke sekolah.

Jarak dan medan yang sulit membuat perjalanan mereka membutuhkan waktu lebih lama. Namun, kondisi itu tidak menghentikan semangat mereka untuk tetap mengikuti pelajaran.

Bagi sebagian siswa, berjalan kaki akhirnya dianggap sebagai pilihan yang lebih aman dibandingkan harus mengambil risiko menggunakan kendaraan di jalan yang rusak.

“Paling banyak kami memilih jalan kaki daripada naik kendaraan,” ungkap Hadiyah.

Harapan Perbaikan Jalan

Warga berharap persoalan akses jalan tersebut mendapat perhatian serius dari pemerintah.

Menurut Hadiyah, masyarakat telah berulang kali menyampaikan kondisi jalan, termasuk melalui unggahan di media sosial, agar persoalan tersebut diketahui lebih luas.

Harapannya, perhatian tersebut tidak hanya berhenti pada unggahan dan sorotan, tetapi berujung pada langkah nyata untuk memperbaiki akses jalan masyarakat.

“Harapannya untuk pemerintah, semoga dengan adanya postingan yang selalu kami bagikan itu kami bisa mendapatkan bantuan, baik itu dari swadaya masyarakat, pemerintah daerah, pemerintah provinsi ataupun pemerintah pusat,” ujarnya.

Menurutnya, warga tidak menuntut sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya menginginkan akses jalan yang layak dan aman untuk menunjang aktivitas sehari-hari, terutama bagi anak-anak yang harus melewati jalur tersebut untuk pergi dan pulang sekolah.

“Kami ingin bisa lebih menikmati perjalanan ke tempat, terutama sekolah. Dengan kondisi jalan seperti itu kami merasa takut ketika naik kendaraan ke sekolah,” katanya.

Di balik langkah kaki anak-anak yang setiap hari menyusuri jalan rusak, tersimpan harapan sederhana: jalan menuju sekolah seharusnya tidak menjadi medan perjuangan.

Warga Piloayita kini berharap perhatian pemerintah segera diwujudkan dalam perbaikan nyata, agar akses penting yang dilalui masyarakat dan para pelajar itu tidak lagi menjadi sumber kekhawatiran setiap hari.

Baca Juga:  Ramdan Liputo Desak Pemprov Gorontalo Siapkan Mitigasi Hadapi Ancaman Kemarau Panjang